« Home | Hanya.... » | Rainbow the Omniscripta » | Apa Sech Maunya?! » | Capung : Mesin Terbang Super Canggih » | RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi » | First Post »

Cerita Malam

Malam membisikkan padaku sebuah ketenangan......

Bulan belum lagi bulat, masih menyisakan tiga hitungan tanggal untuk menjadi sempurna. Tapi langit cerah telah cukup membuat keadaan tak terlalu gelap, ditemani temaram cahaya seperti malam-malam yang lain. Entah mengapa aku selalu rindu malam. Aku selalu disini tepat ketika gemintang ditaburkan di bias cakrawala. terlentang diatas rumput hijau demi menatap lukisan malam bertabur serakan benda berkerlip. Kubiarkan cahayanya masuk kedalam mataku, membias di retina hingga memenuhi kisi-kisi penglihatanku. aku selalu tenang , dalam diamku aku bercengkrama dengan bintang diatas sana.

Selalu begitu, disetiap lamunan ku tentang bintang aku tetap setia berharap aku bisa menjangkaunya. Aku ingin terbang menuju bintang. Nanti, jika kedua angsa yang kupelihara telah mencapai usia dewasa, aku akan meminta mereka untuk meminjamkan sayapnya kepadaku, setelah itu aku akan menghabiskan malam panjangku bersama bintang.

Dan malam selalu saja hitam, tapi karena hitam pula-lah cakrawala menjadi cantik, karena gelap memberitahu kita pijar walau hanya sebuah titik noktah. tak seperti terang ia selalu menutupinya hingga luput dari pandangan mata.

Selalu begitu, ketika terang beranjak pergi kesudut lain akan ada hitam yang menggantikannya, dengan seketika menebarkan jala bius ke sepenjuru. Membuai, sebuah buaian yang melelapkan.

* * * *
Kini sebuah pijar di hadapanku menyilaukan pandangan. membuatku terjaga dari tidur singkat. aku mengucek kedua mataku dengan punggung tangan. Sampai sesaat kemudian sinar didepanku meredup, meredup dan kian bias. sampai akhirnya menjadi sepasang sayap yang berkilauan. kugapaikan kedua belah tanganku, mengusap sayap itu, ini benar-benar nyata , oh...! mungkinkah ini sayap malaikat yang diberikan kepadaku? atau sayap bidadari yang tertinggal ?

Kini, aku telah memiliki sepasang sayap tanpa harus menunggu kedua angsaku dewasa, tanpa harus meminta ibu memintal bulu angsa menjadi jalinan sayap. tak perlu aku bermimpi menggapai bulan karena aku telah berada di bulan, dari bulan bumi hanya sebentuk bulan berwarna biru.

Selalu begitu, aku menghabiskan malam-malamku di bulan, diantara kerubut bintang yang menyebar di cakrawala, menjadi kerikil bercahaya dengan latar bernama langit hitam.

"Mungkin lebih baik tinggal di bulan?" aku selalu membatin setiap aku kembali memijakkan kakiku di bumi, teapt ketika matahari mengintip di ufuk timur.

Aku suka malam yang bertemankan hitam dan sunyi, malam yang datang bersama sepoi angin dari bukit. juga malam yang mempertontonkan aneka benda berkerlip jauh diatas pohon2 yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. malam yang membangunkan kelelawar dari tidurnya diranting-ranting pohon randu dekat lembah. malam yang memainkan melodi sepi, diselingi kepak sayap hewan malam yang berterbangan kian kemari mencari makan.

Justru ditempat seperti inilah kutemukan kembali duniaku, bagiku yang terpenting adalah kedamaian, ketentraman jiwa yang menciptakan perasaan yang nyaman.

Ada rasa lapang ketika aku di datang malam dan kelam, penatku seketika sirna. pun, semangatku kembali menyala. sirnalah beban pikir serta perasaan gundah yang menyelimutiku di kala matahari memancarkan sinarnya. siang selalu datang bersama masalah, aku merasa hampa di siang hari, merasa terasing diantara kebisingan yang memekak. tapi pada malam hari semuanya akan menguap lalu melayang kelangit entah kemana!

juga matahari, yang terlalu egois untuk ku tatap dengn kedua bola mataku yang selalu menyipit ketika diterpa cahayanya. mungkin karena itu pula-lah matahari tak pernah berteman dengan apa, yang ada hanya kesendirian ditemani ketiadaan yang lain. walau awan selalu ada di siang hari tapi ia bukanlah sahabat bagi snag surya. Awan selalu menghalangi matahari ketika ia memancarkan sinarnya secara berlebih. melindungi!

Tapi bulan lebih anggun, sinarnya tak terlalu menyakitkan, cahayanya memancarkan kelembutan dan ketenangan, itulah mengapa rembulan selalu di kelilingi oleh gemintang. itu pula yang membuatku merasa nyaman. selalu ada rasa persahabatan yang ditunjukkan oleh bulan ketika aku menatapnya lamat.

* * * *

Banyak sekali malam tapi mengapa tak satupun yang membawamu ke hadapanku,
Atau malam lainnya yang tak sanggup menuntunku padamu.................................

Si mPunya

    adien
    Newyorkarto, DIY, Indonesia
    Hanya Orang biasa yang jauh dari sempurna, tapi berusaha tuk selalu ber_Metamorfosa *halah...*;))
Profile ku
Status : adien
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Dukung!!!

    JANGAN ASAL COPY PASTE.. BlogFam Community

    ;;


thank's to:

Web Counter
Adalah Nomor Antrean Kamu
Powered by

Powered by Blogger


& Blogger Templates
..:Terkadang kita perlu sedikit waktu untuk merenung sejenak:.. © 2006 all posted by Toha Nasruddin